twitter


LATAR BELAKANG

Pendidikan tidak lepas dari proses belajar. Kadang-kadang bahan pengajaran disamakan dengan pendidikan. Kedua pengertian tersebut memang identik, karena metode belajar berada dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan dilihat secara makro sedangkan pengajaran (metode belajar) dillihat secara mikro.
Menurut konsep Amerika, pengajaran diperlukan untuk memperopleh keterampilan yang dibutuhkan manusia dalam hidup bermasyarakat. Belajar pada hakikatnya adalah penyempurnaan potensi atau kemampuan pada organism biologis dan psikis yang diperlukan dalam hubungan manusia dengan dunia luar dan hidup bermasyarakat.

A.   ARTI BELAJAR
Belajar adalah suatu usaha untuk menguasai segala sesuatu yang berguna untuk hidup. Akan tetapi menurut konsep eropa, arti belajar itu agak sempit hanya mencakup menghapal, mengingat dan memproduksi segala sesuatu yang dipelajari.

B.   PROSES BELAJAR
Oleh karena promosi kesehatan juga merupakan proses pendidikan yang tidak lepas dari proses belajar, maka dalam bab ini akansedikit diungkap prinsip-prinsip dan teori-teori proses belajar. Didalam belajar akan tercakup hal-hal sebagai berikut :

1.   Latihan.  
Adalah penyempurnaan potensi tenaga-tenaga yang ada dengan mengulang-ulang aktivitas tertentu. Latihan adalah suatu perbuatan pokok dalam kegiatan belajar sama halnya dengan kebiasan pembiasaan. Baik latihan maupun pembiasaan terutama dalam tahap biologis, tetapi apabilah selanjutnya berkembang dalam taraf psikis, maka kedua gejala itu akan menjadikan proses kesadaran sebagai proses ketidaksadaran yang bersifat bialogis yang disebut proses otomatisme, proses tersebut menghasilkan tindakan yang tanpa disadari, cepat dan tepat.

2.   Menambah/memperoleh tingkah laku baru.  
Belajar sebenarnya merupakan suatu usaha untuk memperoleh hal-hal baru dalam tingkah laku (pengetahuan, kecakapan, keterampilan, dan nilai-nilai) dengan aktifitas kejiwaan sendiri. Dari pernyataan tersebut tanpak jelas bahwa sifat khas dari metode belajar ialah memperoleh sesuatu yang baru yang dahulu belum ada, sekarang menjadi ada yang semula belum diketahui, sekarang diketahui, yang dahulu belum dimengerti sekarang dimengerti.

C.   CIRI-CIRI KEGIATAN BELAJAR
Pada proses belajar tedapat kegiatan jiwa sendiri. Pengajar hanyalah menyediakan kondisi-kondisi dan stimulus-stimulus tertentu tanpa aktivitas dari subjek yang bersangkutan tidak mungkin terjadi apa yang dinamakan belajar. Pada kegiatan belajar, tidak semua yang terjadi merupakan hal yang baru. Kadang-kadang hanya sebagian saja yang baru.

Dalam uraian singkat tersebut, dapat disimpulkan bahwa kegiatan belajar itu mempunyai ciri-ciri :

1.   Belajar adalah kegiatan yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang sedang belajar, baik actual maupun potensial.
2.   Perubahan tersebut pada pokoknya didapatkan karena kemampuan baru yang berlaku untuk waktu yang relatif lama.
3.   Perubahan-perubahan itu terjadi karena usaha, bukan karena proses pematangan.

D. TEORI METODE BELAJAR
Perkembangan teori metode belajar yang ada dapat dikelompokkan kedalam dua kelompok besar, yakni teori stimulus respons yang kurang memperhitungkan faktor internal dan teori transpormasi yang memperhitungkan faktor internal.

Para ahli psikologi kognitif juga memperhitungkan faktor eksternal dan internal ini dalam mengembangkan torinya, mereka berpendapat bahwa kegiatan belajar merupakan proses yang bersifat internal yang dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, antara lain metode pengajaran.
Dalam perencanaan pengajaran hendaknya didasarkan pada pengetahuan tentang subjek belajar agar dapat dirancang metode pengajaran berdasarkan teori belajar yang tepat.

1.   Teori Belajar Gestalt.  
Teori belajar gestalt yang berdasar pada teori belajar psikologi beranggapan bahwa setiap phenomena terdiri dari suatu kesatuan esensial yang melebihi jumlah dari unsur-unsurnya. Selanjutnya para ahli fsikologi gestalt menyimpulkan bahwa seseorang dinyatakan belajar apabila ia memperoleh pemahaman (insight) dalam situasi yang problematic. Pemahaman tersebut ditandai dengan :

a. Suatu perubahan yang tiba-tiba dari keadaan yang tak berdaya menjadi keadaan yang mampu menguasai atau memecahkan masalah/problema.
b. Adanya retensi yang baik.
c. Adanya peristiwa transfer. Pemahan yang diperoleh situasi, dibawah dan dimanfaatkan atau ditransfer kedalam situasi lain yang mempunyai pola atau struktur yang sama atau hampir sama secara keseluruhan.

2.  Teori belajar menghafal dan mental disiplin. 
Para ahli pendidikan yang lain membedakan teori belajar itu sebagai berikut :

a.   Teori menghafal.   Belajar adalah menghafal, dan menghafal adalah usaha mengumpulkan pengetahuan melalui pembelajaran untuk kemudian digunakan bilamana diperlukan. Otak dipandang sebagai gudang kosong yang perlu diisi dengan berbagai pengertian dan pengetahuan. Orang yang sedang belajar diibaratkan seperti burung beo. Tuga pengajar adalah memberikan pengertian yang sebanyak-banyaknya tanpa mempertimbangkan subjek belajar, maupun fungsi dari pengetahuan tersebut.

b. Teori mental disiplin.   Menurut teori ini, belajar adalah mendisiplinkan mental. Disiplin mental ini dapat diperoleh melalaui latihan terus menerus secara kontinu, berencana dan teratur. Berdasarkan teori manusia mempunyai beberapa jenis daya, seperti daya pikir, daya fantasi, daya tangkap, daya ingat daya mengamati dan sebagainya. Daya-daya tersebut diperkuat, dikembangkan dan dipertajam melalaui latihan-latihan tertentu.

Dalam melatih daya pikir, ada dua faktor penting :

a.   Faktor asah otak.   Gambaran yang ekstrem tentang latihan daya pikir ini ibarat pisau yang perlu selalu diasah supaya tetap tajam, sehingga siap dipergunakan sewaktu-waktu.

b.   Faktor transfer.   Dalam kehidupan sehari-hari, faktor transfer sering dijumpai didalam belajar tentang sesuatu keterampilan atau pengetehuan yang lain. Dengan kata lain, ketika kita mempelajari sesuatu yang baru, akan dipermudah dengan pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya sudah dimiliki. Contoh, seorang yang sudah ahli mengendarai motor dan mempunyai SIM C tidaklah akan sulit untuk belajar mengendarai mobil, bila dibanding dengan orang yang belum dapat mengedarai motor. Hal ini disebabkan adanya faktor transfer (peralihan) yang berjalan searah didalam diri orang tersebut.


c.   Teori asosiasi.   Teori ini barasal dair hasil ilmu jiwa asosiasi yang dirintis oleh john lock dan herbart. Menurut terori ini belajar adalah mengambil tanggapan-tanggapan dan menggabung-gabungkan tanggapan dengan jalan mengulang-ulang.

Jadi belajar adalah mengulang-ulang didalam mengasosiasikan tanggapan-tanggapan, sehingga reproduksi yang satu dapat mengahasilkan reproduksi yang lain dalam ingatankita. Tujuan belajar adalah mereproduksi gabungan tanggapan dengan cepat dan dapat dipercaya.

3.   Teori-Teori Belajar Sosial. 
Untuk melangsungkan kehidupannya, manusia perlu belajar. Dalam hal ini ada dua macam belajar, yaitu belajar secara fisik misalnya menari, olahraga, mengendarai mobil, dsb. Dan belajar secara psikis. Dalam belajar secara psikis ini termasuk juga belajar sosial (social Learning), yakni seseorang mempelajari peranannya dan peranan peranan orang lain dalam kontak sosial selanjutnya orang tersebut akan menyesuaikan tingkah lakunya dengan peran sosial yang telah dipelajarinya. Cara yang sangat penting dalam belajar sosil menurut teori stimulus-respons adalah tingkah laku tiruan (imitasio). Teori tentang tingkah laku tiruan yang penting disajikan disini adalah teori dari N.E Miller, dan J. Dollard serta teori A. Bandura dan R.H. Walters.

a.   Teori belajar sosial dan tiruan dari N.E Miller, dan J. Dollard.   Untuk memahami tingkah laku sosial dan proses belajar sosial, kita harus mengetahui prinsif-prinsif psikologi belajar, yang terdiri dari 4 prinsif.

1) Dorongan (Drive) adalah rangsangan yang sangat kuat terhadap orgaisme (manusia) untuk bertingkah laku.
2)   Isyarat (Cue) adalah rangsangan yang menetukan bila dan dimana suatu respons akan timbul dan terjadi.
3)   Balas (Respons) adalah hierarki bawaan tingkahlaku-tingkahlaku.
4)   Ganjaran (Reward) adalah rangsangan yang menetapkan apakah tingkahlaku balas diulang atau tidak dalam kesempatan yang lain.

b.   Teori belajar sosial dari A bandura dan R.H Walters.   Toeri ini menyatakan bahwa tingka laku tiruan adalah suatu bentuk asosiasi dari rangsangan dengan rangsangan lainnya. Menurut A. Bandura dan R.H. Walters, pengaruh tingkah laku model terhadap tingkah laku peniru ini dibedakan menjadi 3 macam :

1)   Modeling (Modeling Effect), yaitu peniru melakukan tingkah laku-tingkahlaku baru melalaui asosiasi sehingga sesuai dengan tingkah laku mode.
2)   Efek Penghambat (Inhibition) dan penghapus hambatan (Disinhibition) yaitu tingkah laku-tingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkah laku model dihambat timbulnya, sedangkan tingkah laku-tingkah laku yang sesuai dengan tingkah laku model dihapuskan hambatannya sehingga timbul tingkah laku yang dapat menjadi jata.
3)   Efek Kemudahan (Facilitation effect) yaitu tingkah laku-tingkah laku yang sudah perna dipelajari oleh peniru, lebih mudah muncul kembali dengan mengamati tingkah laku model

4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Belajar.    
Di dalam proses kegiatan belajar terdapat tiga persoalan poko, yakkni masukan (Input), proses dan keluaran. Didalam proses ini terjadi pengaru timbale balik antara berbagai faktor, antara lain ; subjek belajar, pengajar/fasilitator belajar, metode yang digunakan, alat bantu belajar dan materi bahan yang dipelajari. Sedangkan keluaran merupakan hasil belajar itu sendiri, yang terdiri dari kemampuan baru atau perubahan baru pada diri subjek belajar. 


Beberapa ahli pendidikan, antara lain J. Guilbert, mengelompokkan faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar kedalam empat kelompok besar, yakni :

a.   Faktor Materi (hal yang dipelajari) : faktor ini ikut menentukan proses dari hasil belajar, misalanya belajar pengetahuan dan belajar sikap atau keterampilan akan menentukan perbedaan proses belajar.
b. Faktor Llingkungan yang dikelompokkan menjadi dua, yaitu lingkungan fisik (suhu, kelembaban udara dan kondisi tempat belajar) dan lingkungan sosial (manusia dengan segala representasinya).
c. Faktor Instrumental yang terdiri dari perangkat keras (perlengkapan belajar dan alat-alat peraga) dan perangkat lunak (kurikkulum, pengajar dan metode belajar mengajar)
d. Faktor individual subjek belajar seperti kondisi psikologis dan panca indra.

5. Proses Belajar Pada Orang Dewasa.
Pendidikan Kesehatan Masyarakat adalah merupakan salah satu bentuk pendidikan orang dewasa. Menurut UNESCO, yang dikutip oleh Lunardi, pendidikan orang dewasa, apapun isi, tingkatan dan metodenya, baik formal maupun tidak, merupakan lanjutan atau pengganti pendidikan disekolah ataupun universitas.
Hasil pendidikan orang dewasa adalah perubahan kemampuan, penampilan atau perilakunya. Perubahan perilaku di dalam proses pendidikan orang dewasa pada umumnya lebih sulit daripada perubahan perilaku dalam pendidikan anak. Dengan kata lain, pendidikan orang dewasa dapat efektif menghasilkan perubahan perilaku apabila isi dan cara atau metode belajar mengajarnya sesuai dengan perubahan yang dirasakan oleh subjek belajar.

Sehubungan dengan kodisi fisik subjek belajar, Verner dan Davison yang dikutip oleh Lunardi mengidentivikasikan adanya enam faktor yang dapat menghambat proses belajar pada orang dewasa, yaitu :

a. Dengan bertambahnya usia, titik dekat penglihatan atau titik dekat yang dapat dilihat secara jelas, mulai bergerak makin jauh. Pada usia 20 tahun, seseorang dapat melihat dengan jelas suatu benda pada jarak 10 cm dari matanya, tetapi pada usia 40 tahun, titik dekat penglihatannya sudah sampai 23 cm .
b. Dengan bertambahnya usia titk jauh penglihatan atau titik terjauh yang dapat dilihat secara jelas mulai berkurang (makin pendek).
c. Makin bertambah usia, semakin besar pula jumlah penerangan yang diperlukan dalam situasi belajar.
d. Makin bertambah usia, persepsi kontras warna cenderung kea rah merah daripada spectrum. Hal ini disebabkan menguningnya kornea atau lensa mata sehingga cahaya masuk agak tersaring. Akibatnya adalah memampuan untuk membedakan warna-warna lembut menjadi berkurang.
e. Makin bertambah usia, kemampuan menerimah suara makin menurun. Mulai usia 20 tahun, pendengaran orang hanya lebihkurang 11%, tetapi pada usia 70 tahun pendengan orang berkurang lebih kurang 50 %.
f. Makin bertambah usia, kemampuan untuk membedakan bunyi makin berkurang. Dengan demikian pembicaraan orang lain yang terlalu cepat makin sukar ditangkap.

6. Prinsip-Prinsip Belajar.

Prinsip I
Belajar adalah suatu pengalaman yang terjadi didalam diri si pelajar yang diaktifkan oleh individu itu sendiri. Proses belajar dikontrol oleh sipelajar sendiri dan bukan oleh sipengajar.


Prinsip II
Belajar adalah penemuan diri sendiri. Hal ini berarti bahwa belajar adalah penggalian ide-ide yang berhubungan dengan diri sendiri dan masyarakat sehingga pelajar dapat menentukan kebutuhan yang akan dicapai.

Prinsip III
Belajar adalah suatu konsukuensi dari pengalaman. Seseorang menjadi bertanggung jawab ketika ia diserahi tanggung jawab. Ia menjadi atau dapat berdiri sendiri bila ia mempunyai pengalaman dan perna berdiri sendiri.

Prinsip IV
Belajar adalah proses kerja sama dan kolaborasi. Kerjasama akan memperkuat proses belajar. Orang pada hakikatnya senang salijg bergantung dan saling membantu.

Prinsip V
Belajar adalah proses evolusi, bukan proses revolusi karena perubahan perilaku memerlukan waktu dan kesabaran. Perubahan perilaku adalah merupakan proses yang lama karena memerlukan pemikiran-pemikiran dan pertimbangan orang lain, contoh dan mungkin pengalaman sebelum menerima atau berperilaku baru.

Prinsip VI
Belajar kadang kadang merupakan suatu proses yang menyakitkan karena menghendaki perubahan kebiasaan yang sangat menyenangkan dan sangat berharga bagi dirinya dan mungkin harus melepaskan sesuatu yang menjadi jalan hidup atau peganan hidupnya.

Prinsip VII
Belajar adalah proses emosional dan intelektual. Belajar dipengaruhi oleh keadaan individu atau si pelajar secara keseluruhan. Belajar bukan hanya proses intelektual, tetapi emosi juga turut menentukan. Oleh karena itu hasil belajar sangat ditentukan oleh situasi psikologis individu pada saat belajar.

Prinsip VIII
Belajar bersifat individual dan unik. Setiap orang mempunyai gaya belajar dan keunikan sendiri dalam belajar. Untuk itu kita harus menyediakan media belajar yang bermacam-macam sehingga tiap individu dapat memperoleh pengalaman belajar sesuai dengan keunikan dan gaya masing-masing.



DAFTAR PUSTAKA


Notoatmojo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta.
Syafrudin. Fratidhiana, Yudhia. 2009. Promosi Kesehatan Untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta : Trans Info Media.

1 komentar:

  1. ora rapi ga jelas campur aduk teorine

Poskan Komentar